Isra Mi’raj Rasulullah SAW sebagai Makhluk Kosmik yang Sebenarnya
Oleh:
Rakhmad Zailani Kiki, Pengasuh Kajian Ihsan Pesantrentaqrib.com
Allah SWT berfirman di surah Al-Anbiya Ayat 107:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
Artinya:”Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad SAW), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (multiverse).”
Tidak ada satu makhluk di alam semesta ini dari awal penciptaan makhluk dan sampai kapan pun, baik makhluk materi maupun makhluk immaterial (ghaib) yang dapat berkunjung ke Sidratul Muntaha dan berdialog dengan Allah SWT secara langsung, selain Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perjalanan Isra Mi’raj: Perjalanan malam hari dengan menghentikan waktu, melipat ruang dan lintas semesta dengan kecepatan cahaya di atas cahaya.
Dan sejatinya, Nabi Muhammad SAW adalah makhluk kosmik.
Penyematan istilah makhluk kosmik kepada Rasulullah SAW ini berbeda dengan istilah untuk tokoh-tokoh makhluk kosmik di film Marvel.
Makhluk kosmik bagi diri Rasulullah SAW adalah makhluk yang memiliki cahaya ruh luar biasa yang cahaya itu merupakan cahaya pertama dalam penciptaan yang dikenal dengan istilah Nur Muhammad, dan karenanya Syekh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji. Di dalam qasidahnya, menyatakan:
أصلي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوليه
Artinya: “Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang bersifat terdahulu dan awal.” (Qashidah Al-Barzanji)
Cahaya Rasulullah SAW itu memancarkan kasih sayang dari perwujudan kasih sayang Allah SWT dan telah serta sedang memengaruhi seluruh makhluk, alam semesta, tata surya, atau multiverse (rahmatan lil ‘aalamiin).
Rasulullah SAW sebagai makhluk kosmik dalam riwayat sahabat Ibnu Abbas adalah sosok yang jasadnya tidak punya bayangan di tengah terik matahari. Di alam semesta ini, materi yang tidak mempunyai bayangan adalah cahaya dan api.
Walhasil, sebagai makhluk kosmik, perjalanan Isra dan Mi’raj Rasulullah SAW dengan menunggangi makhluk cahaya (buraq) adalah perjalanan cahaya di atas cahaya yang merupakan perwujudan dari waktu, ruang, dan kehampaan ketika berada di puncak tertinggi dari kesadaran ilahiah, di Sidratul Muntaha untuk kembali ke bumi menjadi rahmat bagi semesta alam dengan ajaran sholatnya.*

