Catatan Awal Tahun 2026 Nahdilyyin United: Pilih Pimpinan PBNU yang Banyak Kawan, Sedikit Lawan!
KLASIKMEDIA.COM, JAKARTA- Konflik PBNU di tahun 2025 yang berujung pada islah untuk penyelenggaraan muktamar bersama menjadi kebahagiaan dan catatan penting bagi Nahdliyyin, baik struktural maupun kultural, tak terkecuali Nahdliyyin United.
“Islah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur antara Rais Am, Kyai Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya yang menghasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan muktamar NU secara bersama-sama menjadi happy ending, akhir mengembirakan di akhir tahun 2025 bagi Nahdliyyin dan bangsa Indonesia. Ini catatan baiknya di akhir tahun 2025. Namun masalahnya, ada catatan penting memasuki tahun 2026 ini bagi Nahdliyyin, yaitu untuk menyiapkan pemimpin PBNU pasca duet Kyai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya untuk dapat dipilih di muktamar NU yang akan diselenggarakan pada tahun 2026,” ujar Muhammad Rofi`i Mukhlis alias Cak Ofi dalam siaran persnya.
Lebih lanjut Cak Ofi menyatakan bahwa pimpinan PBNU, yaitu Rais Am dan Ketua Umum PBNU, yang harusnya dipilih oleh Nahdliyyin struktural yang memiliki hak suara di muktamar NU nanti adalah sosok-sosok yang memiliki banyak kawan dan sedikit lawan.
“Kalau yang dipilih banyak lawannya, ya nanti akan terulang lagi konflik seperti ini atau bahkan lebih buruk lagi. Karena itu, di awal tahun 2026 ini dan jelang Muktamar NU, Nahdliyyin United pelopori kampanye anti money politic di Muktamar NU. Jadi, muktamarin nanti harus betul-betul terjaga idealismenya, jangan tergoda oleh rayuan dan godaan duniawi. Jangan pilih yang kasih duit, apapun alasannya. Tapi, pilih Rais Am dan Ketua Umum PBNU yang memiliki kompetensi, integritas dan tidak terjerat, tersandera dengan masalah tambang!” Tegas Cak Ofi.
“Mari kita jadikan tahun 2026 ini, dan yang terdekat di bulan Januari ini adalah harlah NU ke-100 di tahun Masehi, sebagai tahun kebangkitan NU di abad keduanya dengan Rais Am dan Ketua Umum PBNU yang baru yang betul-betul dapat merawat jagat dan membangun peradaban,”pungkas Cak Ofi.
Dari pemberitaan banyak media, hasil islah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur antara kubu Kyai Miftachul Akhyar dan kubu Gus Yahya sendiri masih menyisahkan masalah dualisme kepemimpinan yang harus dapat dilselesaikan atau dikompromikan dengan baik agar Muktamar NU di tahun 2026 ini dapat berjalan secara legal. *

