Tumpulnya Kecerdasan Spiritual Anak di Era Digital
Oleh:
Danisah, S.Pd.I, M.Pd
Founder RQ Al-Madinah Jakarta & Aktivis Jaringan Kajian Ihsan (RINGKAS)
Di era digital saat ini, silaturahim dapat direkayasa melalui video call, pesan singkat dan media sosial. Tapi teknologi hanya berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti pertemuan fisik yang lebih emosional sehingga esensi persaudaraan tetap terjaga dan bukan sekedar formalitas.
Tepatnya hari Sabtu , 21 Maret 2026, setelah paginya shalat Idulfitri berlanjut selepas Magrib, saya berkemas dengan segala perbekalan yang sudah disiapkan untuk perjalanan mudik ke kampung halaman, Ini merupakan jadwal rutin tahunan dari masih ada bapak ibu sampai sekarang tinggal bapak. Selain mengunjungi orang tua, momen ini juga untuk mengenalkan anak-anak kepada kerabat sehingga tidak mati obor (kata orang tua dulu).
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa mudik lebaran adalah tradisi turun temurun yang memiliki banyak makna baik tersurat maupun tersirat. Mudik lebaran bukan sekadar fisiknya yang pulang kampung halaman, tetapi mudik lebaran adalah ritual budaya dan spiritual yang sarat dengan nilai-nilai emosional.
Mudik lebaran adalah nostalgia sekaligus refleksi diri dimana dijadikan ajang napak tilas kenangan masa kecil dengan mengunjungi rumah lama, bertemu dengan teman lama. Di situlah ada ruang refleksi sejauh mana perubahan pada diri setelah merantau.
Saya ingin mengatakan di sini bahwa ada learning point dari napak tilas kenangan masa kecil di era awal tahun 80 -an, di mana anak-anak lebih akrab dengan alam, kuat kecerdasan sosial dan spiritualnya. Dengan suasana kampung yang identik jauh dari keramaian, kemewahan dan kenyamanan fasilitas publik . Lorong-lorong yang gelap tanpa lampu jalanan, musholla atau masjid yang masih jarang dan jauh dari rumah penduduk, tidak tersedia akses informasi tapi justru di situlah lahir pribadi-pribadi tanggung yang mempunyai semangat ruhiyah tinggi.
Mereka menghidupkan musholla-musholla dengan pengajian anak-anak , bertadarus Al Qur’an selepas sholat Isya, terutama di bulan Ramadhan, juga hadir shalat subuh berjamaah di musholla. Pemandangan ini sulit kita temui di era kekinian.
Memang setiap zaman mempunyai tantangan yang berbeda, Seperti di zaman era digital ini, semuanya serba praktis, Digitalisasi hampir semua sektor kehidupan memunculkan problem- problem baru jika kita tidak bijak dalam menyikapinya.
Gawai, perangkat elektronik yang seharusnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia melalui teknologi modern dan terus berkembang, justru di sisi lain menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua dalam mendidik anak-anak nya .
Kita tidak bisa menyalahkan zaman, tapi bagaimana kita terus meningkatkan skill untuk mampu menghadirkan pola asuh sesuai zamannya, sebagaimana atsar sahabat Ali bin Abi Thalib r.a: “Didiklah anak sesuai zamannya.”
Prinsip ini shahih secara makna dalam Islam dan didukung oleh prinsip pengajaran Nabi Muhammad SAW, yaitu mendidik anak agar memiliki adab dan kemandirian sesuai tantangan masanya.
Jika orang tua lalai dan kurang bijak dalam dalam menyikapinya, kemajuan teknologi akan berdampak buruk bagi proses edukasi itu sendiri. Kadang orang tua salah dalam aktualisasi rasa kasih sayangnya karena dengan mudah membelikan gawai pada anaknya itu tidak tepat pada waktunya atau kurang kontrol sehingga anak asyik dengan dunianya tanpa batas waktu. Pada akhirnya, hal ini menumpulkan kecerdasan spiritual dan sosial anaknya.
Kita sering melihat di moment family events kadang sebatas berkumpulnya fisik , tapi kering dan kosong dari nilai-nilai emosional; dan banyak anak-anak yang susah bangun pagi untuk sekedar sholat subuh berjamaah, bahkan orang tua harus tarik urat untuk anak bisa bangun pagi.
Maka bagi para orang tua saatnya bijak dalam menyediakan gawai untuk anak-anaknya, harus ada kontrol dan buat komitmen. Dan yang paling penting jangan pernah berhenti berdoa, menasehati anak karena nasehat orang tua adalah bukti cinta dan bentuk kasih sayang kepadanya.
Yang terakhir adalah orang tua harus tetap bersabar dalam menuntun anak-anaknya dalam ketaatan kepada-Nya . Sebagaimana firman- Nya :
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى
” Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa .” ( QS.Thoha : 132 )
Wallahu `alam bishshowab.

