Artikel Klasik Media 

Ikhlas itu di Akhir, bukan di Awal

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Aktivis Jaringan Kajian Ihsan (Ringkas)
Kamis siang (26 Maret 2026), saya bertemu seorang kawan di sebuah kedai kopi di Jakarta Utara.
Pertemuan ini kami adakan untuk silaturahim karena sudah lama kami tidak bertemu langsung. Pertemuan ini  sekaligusmerencanakan pengajian Ihsan tatap muka langsung serta pengajaran bahasa Arab (nahwu, ‘irob, shorof) melalui Al-Qur`an di tempatnya.
Namun, yang menarik bagi saya juga adalah sepenggal cerita kehidupannya yang dijadikannya sebuah teori tentang ikhlas, teori yang sangat menarik untuk saya, yaitu: Ikhlas itu di akhir, bukan di awal.
Teori ikhlas yang dia rumuskan ini berdasarkan pengalaman hidupnya yang dia sampaikan ke saya di pertemuan itu dengan mata berkaca-kaca (saya lihat hampir saja air matanya keluar).
Pengalamannya itu bermula ketika dia mengangkat sesorang anak kecil sebagai anaknya. Dia berikan si anak angkat ini segala yang diperlukan dan yang terbaik layaknya anak kandung. Dia besarkan anak angkatnya ini dengan penuh kasih sayang sampai si anak ini menikah. Tentu ini bukan terjadi dalam waktu singkat, ini tahunan, puluhan tahun. Waktu yang lama bukan?
Namun apa balasannya dari si anak angkat ini kepadanya setelah menikah? Tidak ada. Dia tidak menuntut dibalas secara materi, dia hanya ingin disapa dan diperhatikan melalui komunikasi layaknya orang tua dan anak, tapi tidak ada. Komunikasi ditutup oleh si anak angkat sampai saat ini. Dia seperti tidak pernah dikenal oleh si anak angkat dan dianggap tidak pernah ada.
Saya memandang matanya yang berkaca-kaca, mata seorang tua yang merindukan kehangatan anaknya. Namun dari nada bicara dan ekspresi wajah dan gestur tubuhnya  tidak menunjukkan dendam dan kemarahan. Malah yang terlihat adalah kepasrahan, keihklasan. “Luar biasa kawan saya satu ini, dia jadi guru saya saat ini tentang ikhlas!” Ucapan saya dalam batin.
“Maka saya katakan kepada siapapun untuk  tidak bilang ikhlas di awal di sesuatu perbuatan: saya ikhlas, saya ikhlas.  Karena, ternyata, pembuktian apakah perbuatan kita ikhlas itu di akhir seperti pengalaman saya dengan anak angkat saya ini,” ucapnya memecahkan keheningan. *

Related posts