Suara Bumi: Ihsan sebagai Pemulihan di Tengah Bayang-Bayang Korupsi 271T
Oleh:
Larasati Loroblonyo
Pekerja Seni Tanpa Gelar & Aktivis Jaringan Kajian Ihsan (RINGKAS)
Dalam Islam, Ihsan menduduki tingkatan tertinggi dalam hierarki agama Islam setelah Islam dan Iman. Suatu kondisi di mana setiap tindakan kita tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban, tapi dibalut dengan ketulusan dan kesadaran spiritual yang mendalam. Seperti yang tertuang dalam Hadist Jibril (HR. Muslim No.8 dan HR. Bukhari No.50), Ihsan adalah “beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Namun, Ihsan tidak berhenti di atas sajadah. Melainkan juga masuk ke dalam cara kita memperlakukan sesama dan, yang tak kalah pentingnya, cara kita memperlakukan bumi.
Di tanah Belitung yang kaya akan timah, kita melihat dua wajah manusia yang bertolak belakang, yaitu: Ihsan yang sunyi dari seorang nenek yang menanam di lahan bekas tambang, dan kerusakan masif akibat korupsi timah senilai 271 triliun rupiah yang menjadi kontradiktif dari kemuliaan spiritual tersebut.
Sosok Nenek Inah berusia 74 tahun di Belitung yang setiap hari bersepeda 10 km pulang pergi untuk membantu pembibitan tanpa upah tetap yang rehabilitasinya dipelopori oleh Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Agus Affianto atau sapaan akrabnya Mprop Picoez; adalah perwujudan nyata dari tiga dimensi Ihsan.
Pertama, Ihsan kepada Allah. Tindakannya menanam di lahan kritis bukan demi mengejar viral atau pujian manusia, melainkan dorongan batin untuk memulihkan bumi. Di lahan ekstrim yang memiliki karakteristik tanah sangat poros, asam, tidak mampu mengikat air, dan suhu pasir mencapai 62,4 derajat Celcius pada pukul 10 pagi, ia melakukan muraqabah — kesadaran bahwa Allah melihat setiap peluh dan benih yang ia tanam, meski dunia mungkin mengabaikannya. Kerja kerasnya mengubah lahan menjadi hijau dan menghasilkan sayur mayur dan buah adalah ibadah dalam bentuk kerja nyata; sebuah penolakan terhadap kepasrahan atas rusaknya lingkungan.
Kedua, Ihsan kepada sesama manusia. Ihsan dalam bermuamalah berarti menciptakan manfaat publik (maslahah). Dengan mereklamasi lahan yang gersang, Nenek Inah tidak hanya mempercantik pemandangan, tapi juga menciptakan sumber kehidupan baru. Ia mengubah luka ekologi menjadi aset produktif bagi komunitasnya. Inilah esensi Ihsan, melampaui standar minimal — sekadar tidak menyakiti, menuju standar maksimal — aktif menciptakan manfaat dan keamanan pangan bagi sekitar.
Ketiga, Ihsan kepada lingkungan. Konsep Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta) mengalir lewat jemarinya. Saat korporasi besar meninggalkan lubang-lubang maut dan pasir tandus, Nenek Inah bertindak sebagai seorang Muhsin (pelaku kebaikan) yang memulihkan ekosistem. Beliau paham betul sebuah kebenaran yang sering dilupakan penguasa: bahwa bumi adalah amanah, titipan Tuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi dengan keserakahan tanpa batas.
Potret pemulihan ini sangat kontras dengan skandal korupsi timah 271 triliun rupiah. Jika Ihsan adalah muraqabah (merasa diawasi Tuhan), maka korupsi adalah kebalikannya: sebuah ilusi bahwa mereka bisa bertindak dalam gelap tanpa ada yang melihat.
Pertambangan liar yang dikeruk serampangan semena-mena dan penggelapan sumber daya negara adalah bentuk nyata dari fasad, kerusakan terintegrasi. Mereka merampas kekayaan alam dan meninggalkan kehancuran yang justru diusahakan dan diperbaiki oleh orang-orang seperti Nenek Inah dengan susah payah.
Skandal uang 271 triliun rupiah itu bukan sekadar pencurian uang, melainkan pencurian masa depan yang merampas hak warga Bangka Belitung atas lingkungan yang sehat. Di mana Ihsan membangun maslahah, korupsi menanam mudharat (bahaya). Praktik “bumi hangus” pertambangan ilegal menyisakan warisan kemiskinan, krisis kesehatan, dan alam yang sekarat. Sebaliknya, warisan Nenek Inah adalah kesuburan dan harapan.
Kisah Nenek Inah bukan sekadar cerita inspiratif tentang penghijauan; ini adalah kritik terhadap korupsi yang merajalela. Di saat para pelaku korupsi timah bertindak tanpa rasa malu seolah Tuhan tidak melihat, Nenek Inah justru bertindak dengan iman tertinggi.
Beliau mengubah lahan fasad menjadi taman Ihsan, yang mengajarkan kita bahwa kesalehan sejati bukanlah kesalehan yang pasif, melainkan keadilan yang aktif merevitalisasi.
Di antara butiran pasir Belitung, seorang nenek sederhana menunjukkan bahwa obat mujarab bagi kerusakan moral dan alam adalah dengan bertindak seolah-olah Allah melihatmu. Karena memang benar, Dia selalu melihat. *

