7 Kesalahan Umum saat Membangun Dak Beton yang Berujung Kebocoran
KlasikMedia | Kesalahan dalam konstruksi dak beton biasanya baru terasa saat hujan turun, terlebih jika ada kebocoran yang mulai muncul. Padahal, sebagian besar masalah ini terjadi akibat perencanaan dan aplikasi yang kurang tepat, termasuk pada tahap waterproofing dak beton.
Memahami kesalahan umum sejak awal dapat mencegah kerusakan yang lebih besar di kemudian hari. Anda pun bisa menghindari potensi renovasi besar-besaran yang cukup merepotkan.
Kesalahan Umum saat Membangun Dak Beton
Ada beberapa kesalahan yang kerap terjadi. Untuk meminimalisirnya, cek beberapa daftar berikut agar bangunan Anda memiliki beton yang optimal.
-
Perencanaan Kemiringan yang Tidak Memadai
Banyak orang mengira permukaan dak yang terlihat rata sudah cukup aman, padahal air hujan membutuhkan jalur agar tidak menggenang. Ketika kemiringan dibuat terlalu landai atau bahkan nyaris datar, air akan tertahan di beberapa titik.
Genangan ini lama-kelamaan meresap melalui pori-pori beton. Retakan kecil yang awalnya tidak terlihat pun bisa menjadi jalur masuk air. Kondisi tersebut semakin parah jika tidak didukung sistem pembuangan yang tepat.
Air yang terus mengendap akan menekan lapisan pelindung. Dalam jangka panjang, risiko rembes dan bocor ke plafon di bawahnya menjadi semakin besar.
-
Kualitas Pengecoran dan Pemadatan yang Kurang Optimal
Sebagai pemilik bangunan, Anda tentu ingin dak beton yang kuat dan tahan lama, bukan? Namun kualitas pengecoran dan pemadatan yang kurang optimal sering menjadi sumber masalah kebocoran.
Proses pengecoran tidak boleh dilakukan asal-asalan. Campuran beton harus sesuai takaran. Jika adukan terlalu encer, struktur menjadi rapuh. Jika terlalu kering, ikatan antar material tidak sempurna.
Selain itu, tahap pemadatan memegang peranan penting. Beton yang tidak dipadatkan dengan baik akan menyisakan rongga udara di dalamnya. Rongga ini menjadi celah bagi air untuk masuk dan merembes perlahan.
-
Proses Curing yang Tidak Maksimal
Perlu Anda ketahui, proses curing yang tidak maksimal juga sering menjadi penyebab bocor di kemudian hari. Setelah pengecoran selesai, beton tidak boleh dibiarkan begitu saja. Permukaannya harus dijaga tetap lembab dalam periode tertentu.
Jika curing diabaikan, air dalam campuran beton menguap terlalu cepat. Akibatnya, proses hidrasi semen tidak berlangsung sempurna. Struktur beton pun kehilangan kekuatan alaminya.
-
Detail Sambungan dan Titik Penetrasi yang Diabaikan
Tak sedikit orang menyadari bahwa detail sambungan dan titik penetrasi yang diabaikan dapat menjadi sumber kebocoran pada dak beton. Area pertemuan antara dak dan dinding sering kali dianggap sepele. Padahal di situlah air mudah menyusup.
Hal serupa terjadi pada titik penetrasi seperti pipa, saluran air, atau dudukan tangki. Jika tidak diberi perlakuan tambahan, celah kecil bisa terbentuk di sekelilingnya. Celah ini mungkin tidak terlihat saat pekerjaan selesai. Seiring waktu, retakan halus dapat melebar.
-
Aplikasi Waterproofing Dak Beton yang Tidak Menyeluruh

Pexels
Lapisan pelindung kadang hanya diaplikasikan pada area yang terlihat penting. Sudut dan tepi justru terlewat. Padahal bagian tersebut sangat rentan terhadap rembesan. Ketebalan pelapisan juga kerap tidak merata.
Ada bagian yang terlalu tipis sehingga mudah retak saat terpapar panas dan hujan. Selain itu, permukaan beton yang belum benar-benar bersih tetap langsung dilapisi. Akibatnya daya lekat tidak maksimal.
-
Pemilihan Sistem Waterproofing yang Tidak Sesuai Kebutuhan
Ketika merencanakan pembangunan dak beton, Anda tidak boleh sembarangan dalam memilih sistem waterproofing dak beton.
Setiap bangunan memiliki kondisi berbeda. Ada yang terpapar panas ekstrim dan ada pula yang sering diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi. Jika sistem pelapis yang digunakan tidak menyesuaikan, perlindungannya menjadi kurang efektif.
Misalnya, bahan yang tidak cukup elastis akan mudah retak saat terjadi perubahan suhu. Produk yang tidak tahan genangan juga cepat rusak bila air mengendap.
-
Tidak Melakukan Uji Genangan Sebelum Finishing Akhir
Sebelum masuk tahap akhir, dak beton harus telah melalui uji genangan atau ponding test. Mengabaikan langkah ini bisa berujung pada kebocoran yang merepotkan. Pengujian ini bertujuan melihat apakah masih ada titik rawan rembes.
Air dibiarkan menggenang dalam waktu tertentu. Dari situ akan terlihat apakah terjadi penurunan volume yang tidak wajar. Jika ada kebocoran, tanda-tandanya biasanya muncul di bagian bawah dak.
Sayangnya, banyak orang melewatkan tahap ini demi mengejar waktu pengerjaan. Finishing langsung dipasang tanpa pemeriksaan menyeluruh. Ketika masalah baru terlihat setelah bangunan digunakan, perbaikannya menjadi lebih sulit.
Risiko bocor selalu menghantui saat pengerjaan beton tidak maksimal. Floor hardener hingga waterproofing dak beton harus dipilih sesuai kualitasnya untuk mencegah masalah di kemudian hari.
Lindungi Dak Beton dari Kebocoran dengan Waterproofing Sika!
Kebocoran adalah masalah yang bisa terjadi hanya dengan satu celah kecil pada beton. Meski sepele, kerusakan bisa menjalar. Bangunan menjadi lembap, mudah lapuk, bahkan kekuatannya menurun. Untuk itu, Sika menghadirkan Sarnafil® S 327-15 L sebagai solusi konstruksi Anda.
Sarnafil® S 327-15 L adalah membrane PVC polimer untuk waterproofing atap. Produk ini tahan paparan UV permanen, permeabilitas uap air yang tinggi, serta performa yang terbukti selama beberapa dekade.
Produk ini juga cocok untuk permukaan yang dilapisi pernis dan harus diaplikasikan oleh profesional berpengalaman.
Tak perlu ragu soal kualitas karena Sika telah memiliki pengalaman selama 115 tahun dalam mengerjakan proyek global seperti PLTA Argessa di Switzerland. Selain itu, Sika juga menjadi pionir waterproofing semen pertama di Indonesia.
Untuk kebutuhan waterproofing bangunan, mari konsultasikan segera bersama tim Sika melalui Kontak/Dukungan Sika Indonesia. Cek juga kebutuhan waterproofing dak beton Anda dan spesifikasi produk yang sesuai di lama resmi Sika!

