Artikel Klasik Media 

Melampaui “Mars vs Venus “

Oleh: Larasati Loroblonyo

Pekerja Seni Tanpa Gelar & Aktivis Jaringan Kajian Ihsan (RINGKAS)  

Pada tahun 1992, buku karya Dr. John Gray Men Are from Mars, Women Are from Venus berhasil menarik perhatian publik dengan gagasan bahwa lelaki dan perempuan begitu berbeda dalam cara berpikir, merasakan, dan berkomunikasi. Seolah-olah mereka berasal dari planet yang berbeda.

Gagasan yang ditawarkan buku ini terasa relevan bagi banyak orang karena memberikan penjelasan sederhana atas berbagai tantangan umum dalam hubungan.

Namun, hampir tiga dekade penelitian sejak buku tersebut diterbitkan mengajak kita untuk meninjau kembali teori ini secara kritis: apakah gagasan tersebut benar-benar selaras dengan temuan ilmiah berbasis bukti tentang perbedaan gender?

Daya Tarik Teori Mars-Venus

Teori Dr. Gray menawarkan kerangka yang jelas dan mudah dipahami, yaitu: lelaki digambarkan lebih berorientasi pada solusi, menghargai kemandirian, dan cenderung menarik diri saat menghadapi stres. Sebaliknya, perempuan dianggap lebih ekspresif secara emosional, mencari kedekatan, dan ingin membicarakan masalah yang mereka hadapi.

Perbedaan ini mungkin terasa akrab bagi banyak orang dan memberikan penjelasan yang

“menenangkan” mengapa hubungan terkadang terasa rumit. Namun, pertanyaannya, apakah generalisasi ini benar-benar didukung oleh penelitian?

Bagian Teori Ini yang Selaras dengan Penelitian

Kekuatan utama teori Mars-Venus adalah pengakuan terhadap perbedaan perspektif. Lelaki cenderung masuk “gua” untuk menyelesaikan masalah sendirian, sementara perempuan lebih membutuhkan ruang untuk berbicara dan merasa didengar. Dalam psikologi dan dinamika hubungan, “gua” seorang lelaki adalah metafora untuk ruang baik mental maupun fisik, tempat ia menarik diri sejenak untuk memproses stres, memikirkan solusi secara mandiri, dan memulihkan energi emosionalnya. Ketika seorang lelaki “masuk ke dalam guanya,” bukan berarti ia ingin bersikap anti sosial atau mengabaikan orang lain. Justru, ia sedang berusaha fokus mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi, tanpa banyak campur tangan dari luar.

Akibatnya, niat baik seorang lelaki yang langsung menawarkan solusi bisa terasa seperti penolakan bagi perempuan yang hanya ingin didengarkan. Sebaliknya, keinginan perempuan untuk membahas masalah bisa saja dianggap sebagai tuntutan atau beban berat bagi lelaki yang merasa harus segera “memperbaikinya”.

Dalam batas tertentu, memang ada penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan pada beberapa aspek psikologis antara lelaki dan perempuan. Misalnya, sejumlah meta-analisis menemukan bahwa perempuan cenderung memiliki skor lebih tinggi dalam empati dan kecerdasan emosional dibandingkan lelaki. Temuan ini mendukung gagasan bahwa perempuan mungkin lebih condong pada ekspresi emosi dan membangun koneksi.

Selain itu, ada juga penelitian tentang cara menghadapi stres. Model “tend-and-befriend” (merawat dan berteman) mengemukakan bahwa perempuan lebih cenderung mencari dukungan sosial saat mengalami tekanan. Sebaliknya, lelaki lebih sering menunjukkan respons “fight-or-flight” (melawan atau menghindar), yang bisa berupa menarik diri atau fokus pada pemecahan masalah.

Temuan-temuan ini memberi sedikit dasar bagi asumsi bahwa lelaki dan perempuan dapat memiliki pendekatan berbeda terhadap emosi dan stres.

Bagian Teori Ini Kurang Tepat

Meski ada beberapa kesesuaian, teori Mars-Venus pada dasarnya terlalu menyederhanakan dan melebih-lebihkan perbedaan gender. Penelitian berulang kali menunjukkan bahwa lelaki dan perempuan sebenarnya lebih mirip daripada berbeda dalam sebagian besar aspek psikologis.

Hipotesis Gender Similarities (Hipotesis Kesamaan Gender), yang dipopulerkan oleh Janet Hyde pada 2005, menyatakan bahwa lelaki dan perempuan serupa dalam banyak variabel psikologis, dan perbedaan yang ada biasanya relatif kecil. Hal ini didukung oleh berbagai studi meta-analitik yang mencakup kemampuan kognitif, gaya komunikasi, hingga kepribadian.

Lebih jauh lagi, kerangka Mars-Venus berpotensi memperkuat stereotip gender yang kurang sehat dengan menganggap perbedaan tersebut bersifat bawaan dan tetap. Padahal, perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor seperti proses sosialisasi, budaya, serta kepribadian individu.

Anggapan bahwa lelaki secara alami kurang emosional atau perempuan secara alami lebih pengasuh, mengabaikan kenyataan bahwa ada banyak tumpang tindih sifat di antara keduanya. Selain itu, teori ini juga tidak mempertimbangkan individu yang tidak berada dalam kategori gender biner tradisional. Gender biner tradisional adalah klasifikasi sosial dan budaya yang membagi gender menjadi dua kategori mutlak dan berlawanan: lelaki (maskulin) dan perempuan (feminin).

Sistem ini mengaitkan jenis kelamin biologis saat lahir secara langsung dengan peran, perilaku, dan ekspresi gender tertentu. Penelitian modern semakin melihat gender sebagai spektrum, bukan sekadar dua kategori tetap.

Pentingnya Konteks dan Perbedaan Individu

Konteks memainkan peran penting dalam memahami perbedaan gender. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku sering kali lebih dipengaruhi oleh situasi dibandingkan oleh gender semata. Dalam kondisi tertentu, lelaki bisa lebih ekspresif secara emosional, sementara perempuan dapat mengambil peran yang secara tradisional dianggap “maskulin”, tergantung pada situasi dan norma budaya.

Pendekatan berbasis konteks ini penting, terutama bagi individu yang lebih pendiam atau introvert, yang mungkin merasa tidak sesuai dengan ekspektasi gender tradisional. Dengan memahami peran konteks, kita dapat melepaskan diri dari stereotip kaku dan lebih menghargai keberagaman perilaku dalam setiap gender.

Melampaui Mars dan Venus: Pendekatan yang Lebih Inklusif

Tentu saja kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak menganggap perbedaan ini sebagai kebenaran mutlak yang sudah ada sejak lahir. Tidak semua lelaki adalah penyendiri yang berfokus pada pemecahan masalah, dan tidak semua perempuan mengutamakan berbagi emosi di atas

segalanya. Jika tetap memaksakan kedua perbedaan pandangan ini, akan beresiko mengabaikan kepribadian manusia yang sangat kompleks. Unsur budaya, pola asuh dan karakter unik individu lebih banyak membentuk kepribadian manusia ketimbang sekadar gender.

Lebih jauh lagi, teori Mars-Venus ini bisa juga disalahgunakan sebagai senjata untuk membenarkan sikap buruk. Bisa saja seseorang akan membenarkan sikapnya yang diam seribu bahasa atau bersikap pasif-agresif dengan berdalih “Ya, gitu deh cara kerja planetku”. Oleh karena itu, jalan penyelesaian konflik terbaik antara lelaki dan perempuan bukan dengan menghafal sederetan ciri- ciri stereotip dua makhluk ciptaan Allah ini, melainkan keingintahuan yang disertai perasaan tulus untuk memahami pasangannya.

Alih-alih berasumsi, lebih baik bertanya secara terbuka, semisal: “Sayang, waktu kamu cerita ini, kamu butuh solusi atau cuma ingin didengar?” atau “Waktu kamu diam saja, sebenarnya kamu sedang marah sama aku, atau cuma butuh waktu untuk berpikir sendiri?”

Jadi, meskipun buku Men Are from Mars, Women Are from Venus membuka diskusi penting tentang gender dan hubungan, kita perlu melangkah lebih jauh dari keterbatasannya. Pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis bukti mengakui kompleksitas gender serta beragamnya perbedaan individu di dalamnya.

Hubungan yang sehat tidak bergantung pada mengikuti pola komunikasi berbasis gender, melainkan pada rasa saling menghormati, empati, dan pemahaman. Dengan menekankan nilai-nilai ini, kita dapat membangun hubungan yang lebih dalam tanpa terikat oleh stereotip.

Merayakan Kompleksitas Kita

Bagi individu yang lebih pendiam, yang sering kali merasa kurang dipahami, teori Mars-Venus justru bisa memperkuat asumsi yang tidak membantu tentang bagaimana mereka “seharusnya” berkomunikasi. Padahal, setiap manusia adalah bagian dari pengalaman yang kompleks dan saling terhubung.

Alih-alih melihat satu sama lain seolah berasal dari planet berbeda, kita bisa memandang diri kita sebagai penghuni dunia yang sama, di mana pemahaman, empati, dan koneksi dapat terjalin melampaui perbedaan apa pun.

Dengan melampaui penyederhanaan teori Mars-Venus, kita membuka peluang untuk membangun hubungan yang lebih bermakna. Dengan menantang stereotip dan mengadopsi pemahaman yang lebih inklusif, setiap individu termasuk yang lebih pendiam, dapat merangkul cara unik mereka dalam terhubung dengan orang lain tanpa tekanan untuk menyesuaikan diri dengan peran gender tradisional.

Mari kita rayakan kekuatan dalam keheningan yang ada pada diri kita masing-masing, entah kita berasal dari Mars, Venus, atau “di mana pun” di antaranya. Bersama-sama, dalam upaya memahami hakikat manusia, kita dapat membangun dunia yang lebih inklusif; di mana setiap suara didengar, dan setiap perbedaan menjadi peluang untuk tumbuh dan saling terhubung.

 

Related posts