Klasik Media Sastra 

Munajat Kurindu-Mu

Yaa Allah, Yaa Rahman, Yaa Rahiim,
Yaa Kekasihku, Kurindu diri-Mu
Setiap detik yang kulalui bersama makhluk-Mu
Yang ada hanya keluhan dan tuntutan 
Mereka memberi untuk diminta kembali
Mereka mencintai  untuk dicintai lebih
Mereka berkata untuk didengar 
Mereka mendengar untuk mencaci
Mereka diam  dengan mendengki
Mereka melihat dengan dagunya
Tidak ada pengorbanan,
yang ada hanya mencari aman
dan kenyamanan
Di antara mereka 
Janggut, jubah, surban, ilmu 
untuk kebesaran 
Perjuangan untuk penghargaan
Pekerjaan untuk keangkuhan
Tidak seperti-Mu dan para kekasih-Mu
Memberi dan terus memberi
Tidak ada jejak yang tertapak
Terhapus angin dan derasnya ombak
Yaa Kekasihku,
Kumpulkanlah hamba-Mu ini bersama para kekasih-Mu
Jika hamba-Mu belum sampai pada maqamnya
Cukup di sini saja.
Asal masih dapat memandang wajah mereka dan wajah-Mu 
dari kejauhan 
Tidak mengapa
Diri ini masih penuh dosa
Belum dapat menjadi kekasih-Mu, 
Belum 
Belum dapat menebarkan kasih sayang kepada makhluk-Mu
Bahkan kepada orang-orang terdekat sekalipun
Belum
Maka, Yaa Kekasihku
Ampuni dan rahmati hamba-Mu  ini
Dalam menghabiskan sisa perjalanan ini
Jadikan hamba-Mu ini dalam golongan orang-orang yang sabar
Orang-orang yang pandai bersyukur
Agar dapat terus memberi dan memberi
Dengan berpakaian kehinaan dan cacian
Berjalan tanpa jejak yang tertapak
Terhapus angin dan derasnya ombak
Sampai di satu batas di antara daratan,  samudra dan langit
Di batas mana 
Kau mau meraih dan  memelukku.
Koja, 4: 13 WIB,
30 November  2009
Hamba-MU:
“SEBUTIR DEBU YANG INGIN BERJALAN BERSAMA RAHMAT-MU”
Rakhmad Zailani Kiki

Related posts