Klasik Media Opiniku 

Suara Bumi: Luka Iman di Tumpukan Sampah dan Khianat Amanah

Oleh: Larasati Loroblonyo

Pekerja Seni Tanpa Gelar & Aktivis Jaringan Kajian Ihsan (RINGKAS)  

 

Di negeri dengan jutaan muazin yang mengumandangkan kesucian setiap lima waktu, sebuah ironi besar tersaji di depan mata. Indonesia, rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, mewarisi napas spiritual yang menempatkan kebersihan sebagai separuh dari napas keimanan. Namun, ketika kaki melangkah keluar dari tempat sujud, realitas yang menyambut adalah tumpukan limbah yang menggunung. Sebuah potret dari 72 persen masyarakat yang seolah tuli terhadap jeritan lingkungan. Lebih memilukan lagi, di balik polusi yang kasat mata, terselip polusi moral; oknum pejabat yang tega menggadaikan keselamatan rakyat demi pundi-pundi dari impor sampah beracun (B3). Tulisan ini merupakan sebuah refleksi tentang jurang yang dalam antara ritual ibadah dengan tanggung jawab ekologis, serta pedihnya pengkhianatan amanah yang meracuni tanah air.

​Islam tidak hanya memandang kebersihan sebagai estetika, melainkan syarat sahnya pengabdian kepada Sang Pencipta. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah 2:222). Sejarah mencatat betapa dunia pernah terpana melihat Istanbul atau Cordoba yang wangi dan tertata, di saat belahan Barat dunia masih bergelut dengan kekumuhan.

​Namun, di Indonesia hari ini, terjadi ketakselarasan yang menyesakkan. Kita menyaksikan pribadi-pribadi yang begitu teliti menjaga wudu dan kesucian pakaiannya, namun tanpa beban membuang plastik ke selokan. Ada keterputusan sambungan antara kesucian di dalam masjid dengan kepedulian di luar pagar. Padahal, meminjam filsafat Imam al Ghazali, fisik yang bersih hanyalah pantulan dari hati yang jernih. Jika tangan kita masih ringan merusak alam, barangkali ada yang perlu kita periksa kembali  kedalaman batin kita.

​Di tengah kelalaian bersama, hadir anak-anak muda seperti Pandawara Group sebagai pengingat nurani. Mereka tidak sekadar mengangkat lumpur dan sampah dari sungai yang menghitam; mereka sedang mengangkat martabat kita yang jatuh. Aksi mereka di Pantai Loji atau sungai-sungai di Jawa Barat adalah bukti bahwa kepedulian bisa menular dan menggerakkan.

​Namun, kisah mereka juga menyimpan luka. Ketika dana swadaya ratusan juta rupiah menguap bersama kembalinya tumpukan sampah di lokasi yang telah dibersihkan, kita disadarkan bahwa aksi heroik individu tidak akan cukup tanpa perubahan sistemik. Kegagalan ini adalah cermin retak dari akhlak kolektif kita; sebuah pengingat bahwa sungai bukanlah tong sampah raksasa, melainkan urat nadi kehidupan yang seharusnya kita muliakan.

​Jika ketidakpedulian masyarakat adalah kelalaian, maka impor sampah B3 oleh oknum pejabat adalah kejahatan kemanusiaan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa menerima ratusan ribu ton limbah plastik terkontaminasi dari negara maju atas nama bisnis? Ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan bentuk kolonialisme gaya baru dan pengkhianatan amanah.

Al Qur’an telah memperingatkan untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak. ”Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58).

Ketika pejabat daerah dan pusat justru bermain mata dengan vendor ilegal demi suap, mereka sedang meracuni sumur-sumur kehidupan rakyatnya sendiri. Mikroplastik yang masuk ke aliran darah anak-anak kita dan dioksin yang memicu kanker adalah upeti pahit dari keserakahan mereka. Ini adalah korupsi yang tidak hanya mencuri uang negara, tapi mencuri masa depan generasi.

​Ketidakadilan ekologis, siapa yang menanggung beban?​ Pada akhirnya, yang paling menderita adalah mereka yang tak punya suara. Masyarakat kecil yang tinggal di pinggiran TPA atau pabrik yang membuang limbah serampangan adalah korban utama dari ketidakadilan ekologis ini. Mereka mencuci dengan air yang tercemar dan menghirup udara yang sarat racun, sementara para penikmat keuntungan duduk nyaman di ruang ber-AC.

​Umat Islam Indonesia seharusnya menjadi pelindung bagi alam dan sesama. Kita telah membiarkan negeri ini menjadi tempat pembuangan akhir bagi limbah dunia, sebuah penghinaan bagi bangsa yang besar. ​Langkah-langkah yang semestinya bisa dilakukan untuk menjaga alam Indonesia dan krisis kemanusiaan, yaitu: pertama, kita butuh revolusi dakwah yang menempatkan dosa ekologis sejajar dengan dosa sosial lainnya. Para ulama perlu menegaskan bahwa membuang sampah sembarangan adalah bentuk pengabaian terhadap hak hidup orang lain.

​Kedua, hukum tidak boleh tumpul di hadapan penjahat lingkungan. Pejabat yang mengkhianati amanah dengan limbah B3 harus diperlakukan sebagai musuh negara.

Ketiga, negara harus hadir dengan infrastruktur yang memadai; mengedukasi masyarakat bukan dengan ancaman, tapi dengan kemudahan sistem pengelolaan sampah yang modern dan manusiawi.

​Indonesia adalah tanah yang diberkati, namun keberkatan itu terancam oleh tangan-tangan kita sendiri. Jika 72 persen dari kita masih abai, dan para pemegang kuasa masih rakus, maka ”sebagian dari iman itu” hanyalah slogan hampa di atas kertas.

Pandawara telah menyalakan lilin, kini saatnya kita menyalakan cahaya di hati masing-masing. Menjadi Muslim yang kaffah berarti mencintai Tuhan dengan menjaga ciptaan-Nya. Karena pada akhirnya, bumi yang bersih terawat terjaga adalah warisan paling jujur yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu kita. *

Related posts