Ikan Sapu-Sapu di Jakarta dan Kepedulian Nahdliyyin
Jika tidak ada video konten Arief Kamarudin, pemuda asal Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan di media sosial, tentu Pemprov. DKI Jakarta belum begerak untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta .
Hampir setiap hari Arief Kamarudin menangkap sapu-sapu di Sungai Ciliwung untuk dimusnahkan. Ia terjun ke sungai seorang diri, kadang bersama teman, dengan perlengkapan seadanya. Secaraa rutin, dia membagikan aktivitasnya menangkap ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung, bahkan hingga mengambil telur dari sarangnya untuk menekan populasi.
Arief Kamarudin melakukan pemusnahan ini karena Ikan sapu-sapu hidup dan berkembang biak tanpa kendali di sungai Ciliwung. Ikan ini menggali lubang-lubang di tepi sungai sebagai tempat telur, merusak struktur tanah, dan menyingkirkan ikan-ikan lokal yang dulu mendominasi Ciliwung.
Bagi dia, seperti yang diberitakan media online CNN, sungai Ciliwung bukan sekadar sungai yang membelah Jakarta. Ia masih ingat masa kecilnya di sungai itu. Mata air banyak. Udang bisa ditangkap dengan hanya tangan kosong dari pinggiran. Dulu, kenangnya, masih banyak burung dan ayam berkeliaran mencari makanan di bantaran. Atau ketika ikan-ikan lokal seperti baung, tawes, dan lele liar masih mudah dijala. Sekarang, katanya, kalau dapat ikan selain sapu-sapu, kayak dapat award.
Kepeduliannya ini tidak dia bayangkan mendapatkan atensi dari Gubernur DKI Jakarta, Mas Pramono Anung. Sebuah hal yang sederhana, tapi memberikan efek besar untuk kelestarian ekosistem di sungai Ciliwung dan sungai-sungai lainnya di Jakarta.
Ini tentu menjadi catatan penting untuk perkumpulan NU, untuk Nahdliyyin di Jakarta, juga untuk saya sebagai Ketua PCNU Jakarta Utara, agar peduli dengan urusan lingkungannya. Belajarlah dari kisah Arief Kamarudin ini, buatlah program dan kegiatan yang riil untuk penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup di Jakarta.
Jakarta Utara, 20 April 2026

