Klasik Media 

Achmad Syarif Raih Juara 1 Harmony Speech Festival, Bawa Pesan Persatuan dan Toleransi dari Al-Qur’an

SERANG, BANTEN — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Achmad Syarif, S.Pd., S.BA., CMBA., CDAI., CTrQ., seorang dai muda yang aktif mengabdikan diri dalam dakwah dan pendidikan. Dalam ajang Harmony Speech Festival yang digelar pada 19–20 Agustus 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, Achmad Syarif berhasil meraih Juara Satu, setelah bersaing dengan 59 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang berasal dari latar belakang lintas agama.

 

Capaian tersebut bukan sekadar sebuah penghargaan, tetapi menjadi ruang bagi Achmad Syarif untuk menyampaikan pesan bahwa dakwah dapat menjadi jembatan persaudaraan, persatuan, dan kehidupan berbangsa yang harmonis.

 

Dengan penuh kerendahan hati, Achmad Syarif menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama. Baginya, yang jauh lebih penting adalah kesempatan untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat serta membawa pesan agama yang menyejukkan.

 

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas amanah dan apresiasi ini. Tetapi bagi saya, kemenangan bukanlah akhir. Justru ini menjadi pengingat agar terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” ungkap Achmad Syarif.

 

Dalam pidato kebangsaannya, Achmad Syarif mengangkat tema keamanan, kesejahteraan, persatuan, toleransi, dan pentingnya saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia. Ia menjadikan **QS. Al-Baqarah ayat 126** sebagai salah satu landasan utama.

 

Allah SWT berfirman:

 

**وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ**

 

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.’”

 

Menurutnya, doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan pelajaran penting bahwa keamanan merupakan fondasi kehidupan sebuah bangsa.

 

“Coba kita renungkan ayat ini. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak hanya berdoa agar sebuah negeri menjadi besar atau kaya. Tetapi yang pertama kali beliau pinta adalah ‘Rabbi ij‘al hādzā baladan āminā’ — Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.’ Karena negeri yang besar tanpa keamanan akan melahirkan ketakutan. Negeri yang kaya tanpa persatuan akan melahirkan kesenjangan,” tutur Achmad dalam pidatonya.

 

Ia kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan realitas Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Menurutnya, keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk membangun kehidupan bersama yang saling menghormati.

 

Dalam pidatonya, dia juga mengutip QS. Al-Kafirun ayat 6:

 

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

 

“Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.”

 

Ayat tersebut, menurut Achmad Syarif, mengajarkan pentingnya menghormati keyakinan masing-masing tanpa harus mencampuradukkan akidah. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah. Toleransi bukan berarti menggadaikan keyakinan. Tetapi toleransi adalah: tegas dalam akidah, santun dalam muamalah. Pesan tersebut semakin diperkuat dengan **QS. Al-Hujurat ayat 13, khususnya pada kata لِتَعَارَفُوا — lita‘ārafū, agar manusia saling mengenal.

 

Achmad Syarif mengajak para peserta dan seluruh masyarakat Indonesia untuk melihat perbedaan sebagai bagian dari kehendak Allah SWT.

 

“Allah tidak mengatakan لِتَتَقَاتَلُوا, agar kalian saling berperang. Allah tidak mengatakan لِتَتَبَاغَضُوا, agar kalian saling membenci. Tetapi Allah berfirman لِتَعَارَفُوا, agar kalian saling mengenal. Maka perbedaan suku, bahasa, budaya, bahkan agama, bukan alasan untuk saling membenci; tetapi kesempatan untuk saling mengenal dan saling menghargai,”ujar Achmad Syarif

 

 

Dari Pesantren, Kampus hingga Pengabdian

 

Perjalanan Achmad Syarif dalam dunia dakwah tidak terlepas dari latar belakang pendidikan pesantren. Dia merupakan alumni Pondok Pesantren Daarul Falah Carenang Kopo, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas PTIQ Jakarta.

 

Pengalaman pendidikan pesantren dan perguruan tinggi tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk perjalanan intelektual sekaligus pengabdiannya di tengah masyarakat.

 

Saat ini, Achmad Syarif aktif berdakwah di Jakarta dan Serang, Banten. Di Jakarta, dia berkhidmat sebagai pembina dakwah di Rusun Pulo Gebang, dengan kegiatan pembinaan yang dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sebulan, setiap hari Sabtu.

 

Sementara di Serang, dia tengah mengabdikan diri melalui Yayasan Pendidikan Islam Daarul Ma’arij, yang berada di Kampung Kubang Asem RT 01/RW 05, Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Provinsi Bante.

 

Bagi Achmad Syarif, berdakwah bukan hanya berbicara di atas mimbar. Dakwah juga berarti hadir, mendampingi, mendidik, mendengar, dan berusaha memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

 

Prestasi Juara 1 Harmony Speech Festival ini pun diharapkan tidak menjadikan dirinya berhenti belajar. Justru penghargaan tersebut menjadi amanah baru untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memperluas kebermanfaatan.

 

“Semoga penghargaan ini bukan menjadikan saya merasa lebih baik dari orang lain, tetapi menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Karena pada akhirnya, ilmu, dakwah, dan prestasi akan menjadi berarti ketika bisa memberikan manfaat,” pungkas Achmad Syarif dengan penuh rendah hati.

 

 

Menjadikan Prestasi sebagai Amanah

 

Keberhasilan Achmad Syarif dalam Harmony Speech Festival menjadi gambaran bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam merawat persatuan Indonesia. Dengan ilmu agama yang berpijak pada Al-Qur’an, pendidikan, pengalaman pesantren, serta pengabdian di tengah masyarakat, ia berusaha menghadirkan dakwah yang tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.

 

Di tengah Indonesia yang begitu beragam, pesan yang dibawanya sederhana namun mendalam: Berbeda bukan berarti bermusuhan, beragama bukan berarti kehilangan sikap saling menghormati, dan berdakwah bukan berarti merendahkan yang berbeda.

 

Harmony Speech Festival akhirnya bukan hanya menjadi panggung kompetisi bagi Achmad Syarif, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan satu pesan penting, yaitu: Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat ketika masyarakatnya mampu menjaga keyakinan masing-masing sekaligus merawat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

 

Dan bagi seorang dai muda seperti Achmad Syarif, juara bukanlah tentang siapa yang paling tinggi berdiri di atas panggung, melainkan tentang siapa yang setelah turun dari panggung mampu terus memberikan manfaat bagi sesama.*

 

Related posts