Berita 

KOPRI PMII Jakarta Utara Gelar Seminar untuk Hari Perempuan Sedunia

KLASIKMEDIA.COM, JAKARTA- Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia (Women’s Day) Tahun 2020, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri  (KOPRI) Jakarta Utara menggelar acara seminar dengan mengusung tema “Edukasi Kesehatan Mental Pada Perempuan Dalam Menyikapi Kondisi Masa Kini” (13/3/20).  Seminar yang diselenggarakan di Gedung Aula Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara ini dihadiri oleh lurah sungai bambu, Jajaran Mabinkom, Pengurus Cabang PMII Jakarta Utara, Kader KOPRI se-DKI,  Remaja SMK Kencana, Ibu PKK dan Tamu undangan lainnya.

Seminar ini bertujuan untuk membangun rasa kepedulian terhadap kesehatan mental serta membantu para generasi milenial,yang merasa sedang mengalami gejala gangguan mental. Narasumber seminar adalah  Ai Maryati Solihah (Komisioner KPAI) dan Fellya Zumarnis (Duta Genre DKI Jakarta).

Danty Yuansah sebagai ketua pelaksana menyampaikan tujuan dan harapan bahwa perempuan di era modernisasi harus memiliki kualitas dan jati diri untuk membentuk perempuan yang kuat dan tangguh dalam situasi apapun. “Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia menjadi ajang bahwa wanita d imasa sekarang mempuanyai peran penting tersendiri dengan melawan kekerasan yang sering terjadi dimasa sekarang dapat dilihat bahwa masih banyaknya kasus kekerasan pada perempuan yaitu  431.471 kasus yang terlaporkan pada tahun lalu , naik  menjadi 6% dari tahun sebelumnya  menjadi  406.178 kasus,” ujarnya,

Di sambungnya lagi bahwa dunia yang setara adalah dunia yang memungkinkan untuk melakukan apapun, keseteraan bukan hanya isu wanita tapi juga isu bisnis. Kesetaraan gender sangat penting untuk perkembangan ekonomi dan masyarakat karena dunia yang setara secara gender bisa jadi lebih sehat, kaya dan harmonis. “Masih banyaknya juga RUU yang malah menyudutkan atau mendiskriminasikan perempuan seperti RUU Cipta kerja dan RUU ketahanan keluarga. RUU cipta kerja yang isinya menghapus masa cuti haid untuk perempuan dan RUU ketahanan keluarga yang isinya mengatur bagaimana perempuan seharusnya dalam hidup rumah tangga,” ungkap Danty.

Lebih lanjut Danty menyampaikan  “Kalau dulu ada slogan bahwa di balik setiap pria hebat ada wanita hebat pula dibelakangnya, tetapi sekarang kita harus mengubah mindset: Nahwa di balik setiap pria hebat ada perempuan hebat pula di sampingnya yang menemani setiap langkahnya. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki dan mulai sekarang tidak akan pernah berada di belakang laki-laki”.

Ketua KOPRI Jakarta Utara, Siti Nurauliyah Kh menambahkan bahwasannya kondisi masyarakat saat ini sangat membutuhkan perhatian yang cukup besar, Terlebih untuk kondisi generasi milenial yang berpengaruh kepada kesehatan mental khususnya perempuan masa kini.

“Kegiatan Hari Perempuan Sedunia  merupakan bentuk memberikan edukasi dan pengetahuan. Edukasi dan pengetahuan tersebut akan dipaparkan langsung oleh narasumber yang memang secara khusus langsung dari KPAI dan Duta Genre DKI Jakarta yang didatangkan untuk dapat menjawab serta memberikan informasi yang sangat penting bagi kita semua terkait dengan Kesehatan Mental pada masyarakat masa kini dan KOPRI Jakut turut mengundang tidak hanya kader KOPRI Se-DKI namun melibatkan Remaja SMK Kencana dan Ibu PKK, serta kopri Jakarta Utara berharap kedepannya untuk dapat saling bersinergi satu sama lain terkait isu-isu perempuan ataupun gerakan perempuan masa kini,” ujar Danty.

Dalam paparannya, sebagai narasumber, Ai Maryati Solihah mengajak kita semua membangun sebuah agen gerakan perempuan dan masyarakat yang didalamnya adalah para stakeholder, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. “marilah membangun keadilan perempuan dari fasil agama dan budaya yang memuliakan perempuan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mengimplementasikan itu salah satunya adalah dengan membangun keadilan dan kesetaraan. Penafsiran ini seperti apa yang memberikan dampak kepada perempuan itu sendiri untuk berdaya memberikan ruang kepada perempuan untuk memiliki keadilan dalam mengakses kesejahteraan lalu memperkenalkan pendidikan gender dan hak asasi manusia baik di rumah dan di lembaga pendidikan. Hak asasi manusia diantaranya memiliki prinsip bahwa laki-laki dan perempuan itu memiliki hak yang sama dan tidak boleh ada diskriminasi selain itu juga perlu adanya pengasuhan positif membangun empati sedini mungkin dan juga meningkatkan literasi digital di era teknologi saat ini.

Sedangkan Duta Genre DKI Jakarta, Fellya Zumarnis dalam paparannya menjelaskan berbagai aspek mengenai kesehatan mental. Mulai dari tanda-tanda seseorang mengalami gangguan mental, cara mengelolahnya hingga cara mencegahnya. berfokus pada kesehatan remaja, menurutnya remaja merupakan pondasi. “Dan sekarang kita sedang menghadapi masa bonus demografi. Jadi bonus demografi ini dua indikator utama keberhasilannya, yaitu  pendidikan dan kesehatan. Bukan cuman dari fisik tapi juga psikis. Karena faktanya kalau fisik bisa kelihatan penyakitnya bisa langsung diobati. Kalo psikis susah pengobatannya. Tidak semua orang bisa langsung sembuh dengan baik. Untuk mengatasi masalah kesehatan mental harus diintervensi dengan memberikan remaja ruang berbicara yang lebih luas. Dalam keluarga misalnya, orang tua perlu banyak berkomunikasi dengan anak agar segala masalah yang sedang dihadapinya bisa dibicarakan kepada orang tua. Keluarga, lembaga pendidikan dan pemerintah perlu lebih peka dan suportif dalam mendukung,” ujarnya. *** (Admin)

Related posts

Leave a Comment

Support by: Jasa Web SEO